Dulu gue pikir jadi kakek-nenek itu gampang. Tinggal main sama cucu, kasih hadiah, terus pulang. Ternyata nggak sesederhana itu. Beberapa tahun belakangan gue sering dititipin cucu sama anak gue yang kerja, dan di situlah gue mulai sadar ada hal-hal yang nggak beres. Bukan soal cucu gue nakal, tapi soal gimana kami sekeluarga memperlakukan dia.
Nah, dari pengalaman itu, gue mau cerita soal tanda-tanda yang sering kelewat. Tanda-tanda yang kalau dibiarkan, lama-lama jadi kebiasaan dan susah dibenerin. Buat kamu yang sudah pensiun dan sekarang lebih banyak waktu di rumah bareng cucu, ini mungkin relate.
Waktu Semua Permintaan Dituruti, Itu Bukan Berarti Sayang
Ini yang paling sering gue lihat, termasuk di rumah gue sendiri. Cucu minta sesuatu, langsung dikasih. Nangis dikit, langsung dibujuk pakai barang. Gue juga sempat begitu. Rasanya kasihan, ya kan? Kita udah tua, pengennya lihat cucu senang terus.
Tapi lama-lama gue sadar, ada bedanya antara membahagiakan dan menuruti semua. Anak yang terbiasa dapat semua yang dia mau bakal susah ngerti kata "nggak". Dan itu bahaya, bukan cuma buat dia, tapi buat orang-orang di sekitarnya nanti.
Baca juga: Pulang Kerja: 7 Pertanyaan soal Keluarga yang Sering Ditanya Pemula
Sayang itu bukan soal seberapa banyak yang kita kasih, tapi seberapa siap kita bilang "nggak" demi kebaikan dia.
Coba deh kamu perhatiin. Kalau cucu minta sesuatu dan kamu bilang nggak, apa reaksinya? Kalau dia langsung ngamuk, nangis kencang, atau malah diam marah berhari-hari, itu tanda awal yang perlu diwaspadai. Bukan berarti dia anak buruk, tapi mungkin dia belum pernah diajari menerima kekecewaan.
Kalau Dia Nggak Pernah Mengalah, Awas
Ini tanda kedua yang sering gue lihat. Main sama sepupu atau teman, tapi maunya menang sendiri. Kalau kalah, ngambek. Kalau mainannya diambil, langsung teriak. Orang tua atau kakek-nenek biasanya buru-buru membela: "Ah, dia masih kecil."
Padahal, justru di usia kecil itulah anak belajar soal berbagi dan mengalah. Kalau kita terus membela tanpa mengajarkan, dia bakal tumbuh jadi orang yang susah kerja sama. Di sekolah susah, nanti di kerjaan juga susah.
Gue pernah lihat cucu gue nggak mau berbagi mainan sama anak tetangga. Awalnya gue biarin. Tapi setelah beberapa kali, gue mulai ngomong. Nggak marah, cuma pelan-pelan: "Ini mainan kamu, tapi kalau teman kamu mau pinjam sebentar, boleh nggak?" Butuh waktu, tapi lama-lama dia ngerti.
Tanda yang Sering Kelewat: Nggak Pernah Diminta Bertanggung Jawab
Ini yang paling halus dan paling sering nggak disadari. Anak habis main, mainannya berantakan, kita yang beresin. Anak tumpahin minuman, kita yang langsung lap. Anak lupa bawa buku, kita yang buru-buru anterin ke sekolah.
Kelihatannya sepele. Tapi kalau terus-terusan, anak nggak pernah belajar bahwa perbuatannya punya konsekuensi. Dia bakal tumbuh jadi orang yang selalu nyalahin orang lain kalau ada masalah. Nggak pernah merasa salah, karena dari kecil semua sudah dibersihin sama orang dewasa di sekitarnya.
Gue termasuk yang sempat begini. Cucu gue tumpahin susu, gue langsung ambil kain. Sampai suatu hari anak gue bilang, "Yah, biarin dia yang lap sendiri." Awalnya gue nggak tega. Tapi ternyata, setelah diajarin, cucu gue malah senang bisa "bantu". Anak-anak itu sebenarnya suka kalau dikasih tanggung jawab kecil, asal caranya bener.
Mulai dari Hal Kecil di Rumah
Nggak perlu langsung berat. Mulai dari yang sederhana:
- Minta dia beresin mainannya sendiri setelah main
- Kalau tumpah, minta dia ambil kain dan lap sendiri (sambil kita temani)
- Minta dia bantu angkat piring ke dapur setelah makan
- Kalau dia janji sesuatu, ingetin dia buat nepatin
Kecil-kecil begini yang nanti membentuk karakternya. Dan percaya deh, anak yang terbiasa bertanggung jawab kecil-kecilan bakal lebih siap menghadapi hal besar nanti.
Kenapa Kakek-Nenek Perlu Waspada Sejak Awal
Gue nggak mau nyalahin siapa-siapa. Tapi realitanya, kita sebagai kakek-nenek sering punya "keleluasaan" yang nggak dimiliki orang tua. Kita nggak capek kerja, kita punya lebih banyak waktu, dan kita sering merasa "ah, sekali-sekali nggak apa-apa".
Masalahnya, "sekali-sekali" itu kalau dilakukan terus, jadi kebiasaan. Dan yang lebih repot, orang tua jadi bingung karena aturan di rumah beda sama aturan di rumah kakek-nenek. Anak jadi pinter cari celah: kalau dilarang mama, ya minta ke nenek.
Gue belajar satu hal penting: konsistensi itu lebih berharga daripada hadiah. Anak butuh tahu batasan yang jelas, bukan cuma kasih sayang yang bentuknya barang. Dan tugas kita sebagai kakek-nenek bukan menggantikan peran orang tua, tapi mendukungnya.
Kalau kamu merasa cucu kamu mulai menunjukkan tanda-tanda di atas, nggak perlu panik. Nggak ada kata terlambat buat mulai ngajarin. Yang penting, kamu dan orang tuanya satu suara. Ngobrol baik-baik, sepakati aturan yang sama, dan jalanin bareng.
Pada akhirnya, kita semua pengen cucu kita tumbuh jadi orang yang baik, bukan cuma orang yang senang terus. Dan itu dimulai dari kita berani bilang "nggak" kadang-kadang, meskipun hati kecil kita pengen selalu bilang "iya".